Lupri Natu Marta's Web Blog

HEROES : TALK LESS DO MORE

Juli 4, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sebuah kalimat di atas yang mungkin anda pernah lihat, dengar di media TV atau media cetak atau sebuah pamphlet di jalan?. Karena menggunakan bahasa asing yaitu bahasa Inggris mungkin tidak kita perhatikan kemudian kita artikan yang kemudian menjadi pelajaran atau bahkan inspirasi yang bermakna untuk kita. Padahal kalau di artikan, saya yakin kalimat tersebut bukan kalimat asing bagi telinga kita.

Saya sebenarnya pun ketika menulis artikel ini juga secara tidak sengaja setelah melihat acara di sebuah televisi –yang sebenarnya sudah berkali kali melihatnya- kemudian merenungkan makna besar dari kalimat tersebut. Apabila di terjemahkan, sebenarnya kaimat tersebut adalah sebuah hubungan sebab akibat dikarenakan terdapat tanda ‘sama dengan’. Yang berarti kata di depan adalah sebuah akibat dari rangkaian kata setelahnya yang sebelumnya dipisahkan dengan tanda ‘sama dengan’ tersebut.

Heroes dalam bahasa Indonesia berarti pahlawan pahlawan (karena jamak), kemudian Talk Less Do More berarti mengurangi bicara banyak kerja. Jika di gabungkan maka dapat dimaknai bahwa para pahlawan adalah orang yang sedikit bicara banyak kerja, dan yang harus diperhatikan adalah frase ‘sedikit bicara’ bukan diartikan tidak bicara sama sekali dan hanya mengandalkan otot untuk bekerja. Tentu saja makna yang ingin disampaikan adalah jika kita secara pribadi ataupun dalam sebuah organisasi tentu saja memerlukan perencanaan kegiatan yang tentu saja apabila berkaitan dengan pihak lain akan melakukan komunikasi dalam hal ini adalah bicara. Sedangkan para pahlawan di sini sebaiknya dimaknai bukan tujuan kita menjadi pahlawan tetapi bahwa sejarah telah membuktikan bahwa orang orang yang berhasil adalah orang yang memang sedikit bicara banyak bekerja. Selain itu yang sebaiknya kita ambil hikmahnya adalah karakter para pahlawan, sikap, kesungguhan dan pengorbanan serta hal positif lain yang bias di tiru oleh kita.

Saya akan mengaitkan hubungan sebab akibat di atas dengan analogi atau peribahasa lain. Bagi masyarakat ‘barat’ ada sebuah peribahasa ‘Waktu adalah uang’ yang jika dikaitkan akan ada hubungan dengan keduanya. Jika waktu adalah uang, maka orang orang yang memahami dan menerapkan peribahasa tersebut dalam kehidupan sehari hari tidak akan meggunakan waktu mereka dengan sia sia dan akan digunakan untuk mencari atau melakukan sesuatu yang akan menghasilkan uang.

Atau jika kita kaitkan lagi dengan peribahasa orang orang Arab yaitu ‘Waktu adalah pedang’, maka jika kita kaitkan dengan judul artikel ini akan ada hubungan yang dapat di temukan. Makna waktu adalah pedang adalah jika kita setiap manusia tidak menggunakan waktu dengan sebaik baiknya maka waktu itu akan ‘membunuh’ kita sendiri. Dalam artian adalah waktu kita terbuang sia sia dan kita tidak ada perubahan ke arah yang lebih baik yang berarti juga kita akan kalah saing dengan orang lain, kelompok lain, bangsa lain dan Negara lain.

Jadi tidak ada pilihan lain kecuali sedikit bicara banyak bekerja, gunakan waktu sebaik baiknya sehingga secara pribadi akan menjadi pribadi yang berdaya saing dan tentu saja jika mempunyai daya saing akan menjadi bagian dari solusi lingkungan kita. So, rencanakan dan lakukan sesuatu !!!.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Inspirasi

Masjid-masjid Raksasa di AS Segera Muncul

September 7, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Alfian Banjaransari – detikRamadan

Washington DC – Seiring pesatnya perkembangan Islam di Amerika Serikat, muslim AS pun bergiat mendirikan masjid-masjid yang mampu menjawab kebutuhan akan melonjaknya jumlah kaum muslim. Gabungan antara tradisi keagamaan dan kenyamanan khas AS menjadi dua kata kuncinya.

Dengan pengembangan yang mengambil inspirasi dari gereja-gereja non-Katolik di AS yang mampu menampung sedikitnya 2.000 jemaat, masjid-masjid ‘raksasa’ (mega-mosques) sudah menjadi kebutuhan di tempat-tempat tertentu.

“Saat ini kami memiliki bangunan-bangunan yang didesain untuk sembahyang Jumat yang mampu menampung 1.000 orang dan akan ada (bangunan untuk) 2.000 hingga 3.000 yang segera menyusul,” jelas Corey Saylor dari Lembaga Hubungan Amerika-Islam (CAIR) seperti dilansir AFP, Minggu (7/9/2008).Untuk menanggulangi kepadatan, yang juga berpengaruh terhadap kemacetan lalu lintas usai sembahyang, muslim AS juga menyiapkan masjid-masjid ‘cabang’, yang juga mengikuti model gereja-gereja raksasa. Hal inilah yang menyebabkan masjid-masjid ‘raksasa’ tersebut sangat kental bercirikan Amerika.

Sebuah masjid ‘raksasa’ di Virginia bahkan menyewa ruangan dari sebuah sinagoga. “Sebagian masjid ini merupakan bagian dari sinagoga. Di mana lagi Anda dapat melihat masjid dan sinagoga menjadi satu? Ini benar-benar sebuah ‘Pengalaman Amerika’,” jelas imam Mohamed Magid.

‘Pengalaman Amerika’ semacam ini menarik terutama bagi kaum muslim Amerika muda yang menikmati gabungan antara tradisi keagamaan dan efisiensi dan kenyamanan ala Amerika di tempat ibadah mereka. Kaum muslim Amerika juga menawarkan bentuk yang lebih progresif dari Islam, yang sejalan dengan karakteristik dan keinginan banyak muslim Amerika.

Lebih dari duapertiga muslim Amerika yang merupakan imigran, sebagian dari Timur Tengah, dan kebanyakan dari mereka “berpenampilan dan bersikap selayaknya warga Amerika lainnya,” demikian ungkap sebuah laporan yang dipublikasikan tahun lalu oleh Forum untuk Agama dan Kehidupan Publik.

Muslim Amerika juga menganut etos kerja Protestan (Protestant work ethic) dan percaya bahwa kesuksesan merupakan buah dari kerja keras.

(nrl/nrl)

→ Tinggalkan KomentarKategori: Artikel dari sebelah · Inspirasi · Kabar up to date · Spiritual Living

Bagi bagi pengalaman puasa yuk…

September 4, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Untuk teman teman yang sedang melaksanakan ibadah puasa, pastinya banyak pengalaman menarik, inspiratif dan tidak terlupakan. bagi bagi pengalaman disini ya…

→ Tinggalkan KomentarKategori: Indonesiana · Inspirasi · Spiritual Living